Tx

Sabtu, 02 April 2011

Sumber yang tersisa

Oleh: Stefanus Septian Prasetyo

Kini kau amat Berharga dimataku
Setetespun orang akan mencarimu
Semenjak kejadian itu

Penampung limbah meledak
Sesaat kemudian, setelah aku datang
Mengisi emberku dengan air
di sumber yang tenang

Air disumber kini tlah tercemar
Dan tak kunjung jernih

Betapa terpukul hati orang
Sumber itu adalah kehidupan
Satu-satunya tempat
Bagi setiap insan menyambung hidup

Tak ada yang peduli
Aku tidak, engkaupun tidak
Kami sibuk, kami sibuk mencari
Mencari setetes air, air kebahagiaan

Selasa, 22 Maret 2011

Jurnal Live-In penelitian di dusun Pantimulyo, Talun - SMAK Seminari (XI IPS)

  •  Selasa 8 Maret 2011
        Hari pertama penelitian rombongan kelas XI’S berangkat pukul 07.30 WIB dan sampai di desa Kendalrejo pukul 08.00 WIB. Setibanya di kantor desa kami disambut oleh Bapak kepala desa yakni Bapak Suwardi beserta perangkat yang sedang bertugas saat itu. Sekedar perkenalan kami berbincang-bincang sambil menunggu Bapak kepala dusun Pantimulyo. Setengah jam kemudian Bapak kepala dusun tiba di kantor desa dan langsung berkenalan dengan kami. Setelah saling berkenalan kami langsung diberangkatkan menuju rumah yang menjadi tempat kami menginap selama mengadakan live-in dan penelitian di dusun Pantimulyo.

    Sebelumnya kelas XI’S dibagi menjadi 4 kelompok yakni: Geografi, Sejarah, Ekonomi, dan Sosiologi. Saya masuk dalam kelompok Geografi dan bersama kelompok Sejarah kami tinggal di rumah Bapak kepala dusun Pantimulyo yakni Bapak Supriono. Saya dan teman-teman tiba di rumah beliau pukul 09.15 dan kami disambut dengan ramah oleh Istri beliau. sementara Bapak Supriono masih mengantar teman-teman dari kelompok lain menuju tempat mereka akan tinggal, sekadar perkenalan saya, Gyo, Bertus, Aldo, dan Nico berbincang-bincang bersama Ibu Pri. Pukul 09.30 WIB, Bapak Pri tiba di rumah dan kami bercengkrama sejenak dan dilanjutkan dengan tanya-jawab tentang keadaan dusun Pantimulyo.

         Setelah berbincang-bincang dengan Bapak Kepala Dusun, kami dari Kelompok Geografi yang terdiri dari Gyo, Nico, dan saya langsung berangkat ke lapangan. Agenda kami pagi itu adalah meneliti keadaan sawah, keadaan tanah, pengelolaan sampah, sistem irigasi, dan potensi sumber daya alam yang terdapat di dusun Pantimulyo. Kami berangkat pukul 10.45 WIB dan langsung menuju target penelitian yang berada di bagian barat dusun dan kembali ke rumah pukul 12.30 WIB.

    Setelah beristirahat sore hari kami berangkat lagi untuk survei keberadaan pabrik atau industry yang berada di dusun Pantimulyo, dan kami menemukan 2 pabrik pengolahan yakni pabrik pengolahan Batu Putih (PT. Srimulyo Agung) dan Pabrik pengolahan Kayu Sengon (UD Blitar Jaya) serta 1 gudang penyimpanan pupuk cair hasil limbah milik PT.Ajinex. Jarak yang kami tempuh kurang lebih 2,5 km untuk berangkat dan 2,5 km untuk pulang, awalnya memang terasa tidak enak namun akhirnya saya dapat menikmati perjalanan tersebut. Dusun Pantimulyo adalah dusun yang hijau, dimana-mana ada banyak pohon yang tumbuh sehingga udara masih terasa sejuk disore hari.

    Malam hari sembari menunggu Aldo dan Bertus dari kelompok Sejarah selesai wawancara, saya, Gyo dan Nico berdiskusi tentang hasil yang kami dapat hari ini. Ternyata masih banyak hal yang harus kami lakukan dan kami menyusun jadwal untuk kegiatan kami selanjutnya agar tidak ada hal yang terlewatkan. Setelah makan malam kami keluar lagi menuju warung internet yang berada di dekat rumah, untuk mencari data landasan teori yang belum kami pahami.
  • Rabu 9 Maret 2011
        Rabu pagi pukul 07.00 WIB, saya dan Pak Pri berbincang-bincang mengenai batas-batas dan keberadaan pabrik-pabrik yang ada di dusun Pantimulyo. Setelah sarapan pukul 08.30 WIB kami berangkat menuju Pabrik Pengolahan Baru Putih sesuai petunjuk yang kami dapat dari Pak Pri tadi pagi. Di tempat ini kami melihat bagaimana batu putih yang keras dan besar diolah menjadi makanan ayam dan bahan bangunan yang lebih halus dan berukuran kecil. Saat tiba ditempat kami disambut oleh Sekretaris sekaligus Administrator PT.Srimuylo Agung, Mbak Yana. Kami disambut dengan ramah, beliau menjawab semua pertanyaan kami dengan baik.

         Setelah selesai meneliti Pabrik pengolah Batu Putih kami melanjutkan perjalanan menuju Pabrik pengolahan Kayu Sengon (UD Blitar Jaya), namun sangat disayangkan ternyata orang yang dapat kami wawancarai belum datang di tempat dan kami pun melanjutkan perjalanan menuju kantor desa Kendalrejo. Di kantor desa kami bertemu dengan Bapak Kaur Pemerintahan yakni Bapak Maryono. Kami membicarakan masalah pertumbuhan penduduk desa Kendalrejo karena untuk dusun Pantimulyo sendiri belum ada data sehingga data yang dapat kami kumpulkan hanya data pertumbuhan desa Kendalrejo secara umum dan data itu masih belum lengkap.

          Pukul 13.00 WIB kami kembali menuju Pabrik pengolahan Kayu Sengon (UD Blitar Jaya) sambil berharap orang yang dapat kami wawancarai telah datang. Sampai disana kami disambut oleh para pekerja dan langsung diantarkan menuju Pak Mutikno dari bagian Pengadaan Log (kayu). Pak Mutikto menjawab hal-hal yang kami tanyakan dengan semangat dan dari jawabannya kami mengetahui bahwa semua limbah yang dihasilkan pengolahan kayu ini dimanfaatkan kembali menjadi barang-barang yang lebih bermanfaat. Setelah selesai tanya-jawab kami dipersilakan untuk berkeliling areal pabrik pengolahan kayu tersebut, setelah puas berkeliling kami mohon diri dan pamit untuk melanjutkan perjalanan.

          Dari pabrik pengolahan kayu kami berjalan kaki kembali menuju gudang “pupuk Amina” (PT.Ajinex), awalnya kami mengira bahwa tempat itu adalah pabrik tapi ternyata hanyalah sebuah gudang penyimpanan. Ditempat ini kami disambut oleh Bapak Muklas selaku koordinator gudang. Dari pernyataan Pak Muklas, kami mengetahui bahwa sebenarnya pupuk cair yang dihasilkan oleh perusahaan ini meruPakan hasil olahan dari limbah MSG milik PT.Ajinomoto (perusahaan penyedap masakan) yang kemudian diolah oleh anak cabang perusahaan yaitu PT.Ajinex menjadi pupuk cair.

       Kami mengambil jalan terobosan dalam perjalanan pulang, tidak hanya agar lebih cepat melainkan juga sekaligus melakukan survei lapangan menjaga kemungkinan ada pabrik yang belum di datangi. Kami semua tiba di rumah pukul 14.30 WIB dan langsung bersiap-siap berangkat menuju Gereja stasi Garum untuk mengikuti Misa Rabu Abu.

     Malam sepulang dari stasi kami semua turun di rumah Bapak Agus Kedang dan saya langsung berangkat menuju rumah Mbah Kasidi untuk menemani Aldo dan Bertus mengadakan wawancara, sementara Gyo dan Nico berangkat pulang karena baju mereka sudah basah terkena hujan. Di rumah Mbah Kasidi kami diperlakukan dengan sangat baik, beliau menganggap kami seperti cucunya sendiri sehingga kami merasa betah berlama-lama di rumah beliau. Waktu terus berjalan dan mau tak mau kami harus kembali ke rumah Bapak Supriono karena takut terlalu malam. Setiba di rumah Pak Supriono saya segera mengganti pakaian yang saya kenakan dan selesai ganti baju saya langsung bergabung dengan Gyo dan Nico untuk berdiskusi membahas apa yang kami dapat hari ini.

       Hari ini kami mendapat banyak pengalaman dan banyak data, besok hanya kami hanya tinggal mencari data tentang peternakan dan data imigrasi penduduk. Lalu kami beristirahat, namun tak lama kemudian teman kami dari kelompok Ekonomi yang terdiri dari Yosafat, Stanley, dan Septian datang untuk menemui Bapak Supriono dan kami bangun kembali untuk mencari Pak Supriono. Sementara mereka (teman-teman kelompok Ekonomi) mewawancarai Bapak Pri kami dari kelompok menyimaknya, setelah teman-teman kelompok Ekonomi berpamitan saya dan Aldo secara bergantian bertanya kepada Pak Supriono mengenai hal-hal yang masih belum jelas atau kami belum pahami, seperti mengenai Reboisasi yang dilakukan masyarakat dan untuk Aldo ia bertanya mengenai peninggalan Sejarah yang berada di dusun Pantimulyo. Selesai bertanya-jawab saya dan Aldo mohon diri untuk beristirahat agar esok hari kami dapat bangun lebih cepat untuk mempersiapkan diri untuk pulang.
  • Kamis 10 Maret 2011
     Pagi ini sebelum pulang saya menyempatkan waktu kembali untuk berbincang-bincang dengan Bapak Supriono walau hanya sebentar. Rencananya hari ini adalah kami akan pulang, namun sebelum pulang kami akan mencari beberapa data yang belum lengkap. Sebelum pulang berpamitan terlebih dahulu kepada Bapak dan ibu Pri. Gyo, Nico, dan Bertus langsung berangkat menuju kantor desa untuk mencari data kependudukan yang belum lengkap, sementara saya dan Aldo akan berkeliling terlebih dahulu untuk mengunjungi situs “Batu Mbah Gimbal” dan “Batu Mbah Mrantani” serta mencari data tentang peternakan ayam. Kami terpaksa berpencar untuk menghemat waktu yang ada, selain itu jarak antar lokasi berjarak cukup jauh sehingga kami harus berbagi tugas agar dapat mengumpulkan data dengan lebih maksimal. Dari situs “Batu Mbah Mrantani” yang ada diseblah timur dusun Pantimulyo, saya dan Aldo berjalan menuju lokasi situs “Batu Mbah Gimbal ’’ dan lokasi peternakan ayam yang berada disebelah barat.

               Di Situs “ Batu Mbah Gimbal” saya dan Aldo hanya mengambil foto, setelah itu kami langsung menuju peternakan ayam yang berjarak kurang-lebih 500 M dari situs tersebut. Di tempat itu kami mendapati ada dua peternakan, salah satu peternakan hanya peternakan ayam petelur saja, sedangkan peternakan yang yang lain adalah perternakan ayam pedaging dan petelur. Setelah kami mendapat data yang kami butuhkan dari kedua peternakan ayam tersebut, saya dan Aldo langsung berangkat menuju kantor desa Kendalrejo. Sampai disana semua teman-teman telah berkumpul.
 
     Tak lama kemudian Bu Rina dan Pak Aris datang menjemput kami, kurang lebih pukul12.30 WIB mereka datang. Kami mengadakan acara penutupan Live-in di Kantor Desa bersama dengan perangkat Desa yang lain termasuk Kepala Dusun Pantimulyo yakni Bapak Supriono. Setelah Bapak kepala desa Kendalrejo, Bapak kepala dusun Pantimulyo, dan perwakilan guru SMAK Seminari, serta perwakilan siswa memberikan sambutan, kami semua makan siang bersama. Acara ditutup dengan foto bersama didepan kantor desa, dan setelah itu rombongan langsung berangkat pulang menuju Seminari.
            Garum, 10 Maret 2011       

Stefanus Shandy Herwanto Putra Pratama

Minggu, 20 Maret 2011

Pengertian Reboisasi-Das-Pengolahan Limbah- Penertiban pengelolaan Sampah- dan Tataguna lahan

        Reboisasi (atau reforestation) adalah pengembalian kembali sumber daya hutan yang telah hilang. Sumber daya hutan yang dimaksud adalah pohon2 berkayu, semak2, satwa di dalamnya, dan sebagainya. Caranya tidak sulit, asalkan perawatan hutannya dilakukan dengan serius. Cukup dicarikan bibit2 pohon berkayu, lalu kamu tanam dan berikan pupuk urea secukupnya. Setiap dua minggu diperiksa, jika daunnya menguning, maka perlu diberi air.

      DAS (atau catchmen basin, drainage basin) adalah wilayah di mana air hujan yang jatuh di wilayah tersebut akan mengalir ke satu titik. Air yang mengalir dapat meresap ke dalam tanah sepanjang perjalanannya atau mengalir sebagai sungai.

   Pengembangan DAS dilakukan dengan mengkonservasi sumber daya hayati yang ada di wilayah tersebut, misalnya dengan menanam pepohonan. Pepohonan ini bermanfaat untuk menahan laju aliran air sehingga mampu meresapkan air ke dalam tanah sehingga mengurangi surface run off.

     Limbah adalah berbagai material yang tidak diinginkan lagi, tidak bisa dimanfaatkan lagi, atau tidak lagi berguna. Namun limbah yang didaur ulang tidak lagi disebut sebagai limbah. Segala proses yang menghasilkan material yang tidak bisa dimanfaatkan lagi disebut limbah bagi proses tersebut. Namun jika limbah tersebut diproses di tempat lain, maka limbah tersebut menjadi bahan baku.

    Pengolahan limbah bervariasi, tergantung jenisnya. Jika limbah kaca dan logam, maka dilebur dan dibentuk kembali. Jika limbah plastik, dilebur juga dengan tambahan proses kimia tertentu. Kertas bisa didaur ulang namun hingga batas tertentu. Ada kalanya kertas daur ulang tidak bisa kembali didaur ulang sehingga perlu dijadikan kompos. Limbah organik bisa dikomposkan.

     Tata guna lahan pengaturan fungsi lahan untuk tujuan tertentu, biasanya untuk pengaturan populasi, polusi, kemacetan, dan banjir. Tata guna lahan memisahkan antara kawasan yang digunakan untuk tempat tinggal manusia, kantor pemerintah, kawasan komersial, kawasan industri, dan ruang terbuka hijau.

materi referensi:

Sabtu, 12 Maret 2011

Pedoman Calon Siswa Seminari Menengah St.Vincentius A Paulo Garum-Blitar

Pendaftaran:
  • Gelombang I : dimulai dari 1 November-15 Januari (setiap Tahun)
  • Gelombang II : dimulai sejak 20 Februari  - Minggu Palma ( Setiap Tahun)
  • Informasi dan formulir dapat diperoleh di:
    • Pastor Paroki setempat
    • SMP/SMA Katolik setempat
    • Seminari Menengah St.Vincentius A Paulo Garum-Blitar
Syarat Pendaftaran
  • Calon adalah siswa (laki-laki) Katolik yang sedang dduduk dikelas IX SMP atau XII SMA.
           Sehat jasmani dan Rohani (tidak cacat badan)
  • Memiliki minat menjadi Imam.
  • Memperoleh persetujuan dari orang tua atau wali.
  • Telah dibaptis menimal 2 tahun.
  • Usia calon dari SMP maksimal 18 tahun dan calon dari SMA maksiaml 21 tahun ( pada juli tahun ajaran yang akan dating.
Prosedur dan Perlengkapan Pendaftaran
  • Calon mengisi formulir pendaftaran sesuai petunjuk dan menyerahkannya pada pastor paroki untuk disahkan .
  • Bersama dengan formulir pendaftaran, disertakan perlengkapan:
    • a. Stopmap biru untuk SMP dan merah untuk SMA (5 buah)
    • b. Surat keterangan kesehatan dari dokter.
    • c. Keterangan laborat mengenai kondisi Hbs-Ag, Anti Hbs-Ag, Darah lengkap, Hb, Diff,
                       Golongan Darah, LED, SGOP, SGPT, LFT, Uric Acid, Urine lengkap.
    • d. Foto Rontgen (lengkap dengan klise dan keterangannya)
    • e. Untuk C dan D bisa menyusul saat mengikuti test.
  • Formulir pendaftaran beserta perlengkapannya dikirim ke Seminari Menengah St.Vincentius A Paulo Garum-Blitar, Kotak Pos 106 Blitar 66101.
Wawancara dan Psikotest
  • Wawancara dan Psikotest wajib diikuti semua calon.
  • Untuk mengikuti wawancara da psikotest, para calon akan dipanggil dating ke seminari garum. Calon akan menginap 2 malam pada tanggal yang akan ditentukan kemudian.
  • Diharapkan para calon mempersiapkan perlengkapan secukupnya.
Berita penerimaan
  • Calon yang diterima adalah mereka mengikuti seluruh proses penerimaan dan test, dan telah dinyatakan diterima dengan keputusan rector Seminari Garum.
  • Keputusan Rektor akan diberikan dalam bentuk surat pemberitahuan.
  • Bagi calon yang diterima segera setelah dikeluarkannya STK dan NUN(SKHU) rata-rata 6.0 hendaknya mengirimkan fotokopinya masing-masing dua lembar.
Masuk Seminari
  • Tanggal masuk Seminari akan diberitahukan kemudian lewat surat.
  • Syarat yang harus dipersiapkan:
    • 2.1. Perlengkapan yang harus dibawa dari Rumah:
      •         Baju dan Celan panjang (secukupnya)
      •         Celana dalam, singlet, sapu tangan, kaos oblong.
      •         Sepatu hitam patofel untuk sekolah dank e Gereja.
      • Celana dan kaos olahraga (minimal 2 stel), dan sepatu olahraga.
      • Sandal jepit dan tempat sabun.
    • 2.2. Perlengkapan sekolah yang harus dibawa:
      • Alat tulis dan buku tulis.
      • Kamus (Inggris-Indonesia dan Indonesia-Inggris) dan Kalkulator.
      • Buku-buku pelajaran
      • Kitab suci
    • 2.3. mohon dipersiapkan dana untuk seragam sekolah 2 stel.
  • Pakaian hendaknya cukup kuat dan tidak luntur, berpenampilan pantas dan sederhana, serta cukup longgar.
  • Hendaknya semua pakaian yang dibawa diberi nomor cucian ( yang akan diberikan bila calon diterima) berwarna yang tidak luntur, bisa dijahit dan dilarang menggunakan spidol.
Biaya Pendidikan
  • Seminari menetapan sumbangan pendidikan min. Rp. 300.000,- per bulan.
  • Biaya pendidikan tersebut dimaksud sebagai bentuk tanggung jawab orang tua sebagai lembaga calon imam.
  • Biaya pendidikan tersenut digunakan untuk membantu menutup biaya makan dan tinggal, sekolah, dan rawat ringan.
  • Biaya diatas tidak termasuk uang saku, biaya ulangan dan UAN, serta rawat berat.

Jumat, 11 Maret 2011

Kenapa Orang Bisa Mengidap Pedophilia??

By : Yusafat Eko Transisko(Afa)

    Menurut buku diagnostic And Statistical Manual Of Mental Disorders (DSM), Fourth Edition, yang dibuat oleh American Psychiatric Association, gangguan seksual yang satu ini berhubungan dengan educational value yang diperoleh saat seseorang masih kecil. Kalau orang yang bersangkutan tidak mendapatkan educational value yang benar sesuai dengan perkembangan umurnya, maka orang itu akan stuck dalam pemahaman sexual pleasure ketika orang itu masih kecil.

    Tapi, selain tidak dapat educational value yang benar, pedophilia juga mungkin muncul karena factor trauma atau pegarh lingkungan sosial tempat tinggalnya. Factor trauma adalah kalau bersangkutan dalam riwayat hidupnya pernah menjadi korban pleceehan seksual oleh orang dewasa di sekitarnya. Perasaan tertekan, terhina, sekaligus tidak berdaya yang muncul waktu orang itu pertama kali mengalami pelecehan seksual tersebut okan tinggal di dalam memori otaknya. Kemudian dalam perjalanan hidup selanjutnya, memori itu bisa berubah menjadi amarah terpendam dan keinginan untuk balas dendam, atau justru berubah menjadi sesuatu yang olehnya dianggap menyenangkan.

    Kalau faktor pengaruh lingkungan social, tidak lain dan tidak bukan mengarah kepada masalah pornografi! Gara-gara kecanduan membaca atau menonton hal-hal yang berbau pornografi, hasilnya menjadi hasrat untuk mencoba. Celakanya, hingga terlalu kecanduannya, aktivitas seksual yang normal (laki-laki dengan perempuan yang beda usianya tidak terlalu jauh) suka dianggap tidak menarik dan tidak seru lagi. Yang lebih menarik dan lebih seru adalah aktivitas sekual yang aneh-aneh, salah satunya aktivitas seksual dengan anak-anak dibawah umur! (jauh dari masa-masa pubertas dan sesudah pubertas).

Sumber :
Majalah Hai 10-16 November 2008/TH XXXII NO.45/.
Ensiklopedi Oxford.