Tx

Minggu, 10 April 2011

Menjadi Pribadi yang Integral

Sebagai seorang seminaris, sebuah usaha untuk menjadi probadi yang integral adalah sebuah kewajiban, yang benar-benar harus dijalani dengan segenap hati dan niat yang sungguh-sungguh kuat. Sehingga itu semua bukan hanya sekedar usaha yang hanya diniatkan saja, namun usaha yang diniatkan dan juga usaha yang benar-benar dilakukan. Berusaha menjadi pribadi yang integral berarti sama dengan berusaha untuk menjadi diri sendiri yang benar-benar utuh. Sehingga apa yang orang lain lihat tentang diri kita yang nampak dari luar mereka juga sama dengan melihat tetang diri kita yang nampak dari dalam, yaikni isi hati dan kepribadian asli kita. Hal itu dapat membentuk kita menjadi pribadi yang jujur, tidak munafik, apa adanya, tidak plin-plan, dan tidak mudah ikut-ikutan dengan orang lain atau terpengaruh sesuatu yang berasal dari luar diri kita.

    Usahaku sendiri sebagai seorang seminaris dalam berkembang menjadi pribadi yang integral bukanlah usaha yang sangat sulit untukku lakukan . Namun bukan berarti bahwa aku tidak berjuang untuk berkembang dengan keras dalam menjadi pribadi yang benar-benar integral. Banyak juga kesulitan yang ku hadapi namun itu dapat aku lalui. Hal yang membuat aku berfikir dan merasa bahwa hal itu aku rasa tidak sulit adalah karena aku senang menjadi diri sendiri, tidak suka ikut-ikutan, dan terutama tidak munafik. Hal lain yang membantuku dalam proses ini adalah karena aku juga mempunyai komitmen yang telahku tanamkan di dalam diriku sejak aku masih duduk di bangku SMP dulu, yakni “Be your self and just the way you're”.

    Kenapa aku memilih itu? Karena menurutku memang lebih menyenangkan dan membanggakan menjadi diri sendiri yang mampu menciptakan sesuatu yang berguna bagi orang lain dan diri sendiri, yang menunjukkan identitas diriku sendiri. Karena sesuatu itu berasal dari diriku sendiri dan original, tanpa ikut-ikutan orang lain. Contohnya saja aku tidak pernah ikut-ikutan artis atau orang manapun dalam cara berpenampilan, aku selalu berpenampilan yang sesuai dengan diriku sendiri dan cocok dengan diriku, karena aku tidak ingin menjadi follower ataupun leader, aku hanya ingin menjadi trendcenter, yang mampu menciptakan hal baru. Aku melakukan hal itu karena aku tidak suka dengan orang yang hanya suka dan bisanya meniru-niru gaya dari orang lain, baik dalam cara berpenampilan maupun, berbicara, berjalan, menyanyi, dan lain-lain sehingga diri dari orang itu menjadi tidak jelas karena hanya mengikuti saja dan orang itu juga kehilangan kepribadian atau kharakternya yang sesungguhnya dia miliki sendiri yang sesungguhnya sangat unik dan indah, sehingga dapat disimpulkan bahwa kepribadiannya menjadi tidak lagi integral. Orang itupun bisa-bisa malah menjadi orang atau pribadi yang disebut dengan “alay” , ‘yakni orang yang biasanya disematkan pada sosok anak yang sok keren, secara fashion (penampilan), karya (musik) maupun kelakuan secara umum’ (sumber : Majalah Hot Chord edisi 26 tahun 2010). Aku sendiri mengartiakan hal itu sebagai orang yang hanya mengikuti mode tanpa tahu nilai fungsi yang sesungguhnya, terkadang walau tidak cocok dengan dirinya tetap dia kenakan dan dia lakukan, yang penting gaya.

    Usaha-usaha yang ku lakukan agar bias menjadi pribadi yang benar-benar integral adalah salahsatunya dengan terbuka terhadap orang-orang di sekitarku, karena dengan terbuka aku dapat dinilai oleh orang lain dan aku dapat menerimanya dengan baik hal itu demi memperbaiki diriku. Sikap jujur atau denga kata lain tidak munafik adalah hal yang juga penting dalam usahaku, karena dengan tidak munafik berarti aku tidak membohongi orang lain dan diriku sendiri dengan apa yang nampak dari luar diriku, namun aku selalu mensingkronkan apa yang ada dari luar diriku (penampilan fisik) dengan apa yang ada dari dalam diriku (isi hati), sehingga aku tidak disebut sebagaui kuburan China, yakni yang hanya baik dan bagus di dalam namun ternyata busuk di dalam.

    Dengan segala usaha itu aku telah memperoleh hal yang sangat berharga bagi diriku, yakni hidup sebagai pribadi yang integral walaupun belum sempurna. Namun sudah sangat memuaskan bahwa aku hidup dengan tanpa tekanan yang berasal dari dalam diriku, karena aku selalu bersikap terbuka terhadap orang-orang di sekitarku sehingga tidak ada yang ku bohongi baik diri sendiri maupun orang lain, atau denga kata lain   aku telah mampu mengalahkan kemunafikan dalam diriku yang memang dari dulu tidak aku sukai. Selain itu aku juga tidak mudah ikut-ikutan dengan tren yang terkadang tidak jelas apa nilai dan fungsi yang terkandung di dalamnya. Aku sebagai pribadi yang integral juga mampu menciptakan karya-karyaku yang orisinil. Aku cukup senang terhadap apa yang telah ku capai itu, karena apa yang telah ku capai itu adalah salah satu buah dari usahaku.By: Yusafat Eko Transisko (Afa)  

Sabtu, 02 April 2011

History Of Seminary Garum

 Seminari Garum berdiri pada hari Raya Santo Petrus dan Paulus, 29 Juni 1948, di Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria, Jalan Kepanjen 4-6 Surabaya. Pendiri Seminari Garum adalah seorang uskup bernama Mgr. Michael Verhoeks CM dan dirintis oleh seorang pastor bernama Ignatius Dwidjasoesastra CM.Seiring perkembangannya Seminari dipindahkan lokasinya yang semula dijalan Kepanjen lalu di jalan Dinoyo Surabaya dan akhirnya sampai sekarang berada di Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar. Daerah Blitar dipilih bukan tanpa alasan, namun daerah ini dipilih karena memang kondisinya yang tidak terlalu bising dan jauh dari keramaian, selain itu juga karena daerah Blitar mempunyai banyak daerah(stasi)yang masih harus diperhatikan(umat katolik). Tujuan Seminari adalah menyelenggarakan pembinaan bagi lulusan SMP/SMA/SMK, yang bersedia mengikuti panggilan khusus untuk terlibat dalam pelayanan rohani sebagai imam di wilayah Keuskupan Surabaya dan Gereja Katholik pada umumnya. Sebagai Prioritas, lulusan Seminari diarahkan untuk memenuhi kebutuhan imam-imam Praja Keuskupan Surabaya dan imam-imam Congregatio Missionis (CM), namun tidak menutup kemungkinan lulusan Seminari berkarya untuk Tarekat atau Keuskupan yang lainnya.
   Seminari Garum atau Seminari Menengah Santo Vincentius a Paulo Garum adalah sebuah lembaga pendidikan awal untuk para calon pastor Katolik. Seminari ini terletak di desa atau lebih tepat Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Saat ini, Seminari Garum terdiri dari SMA (Sekolah Menengah Atas), kelas khusus sesudah SMA, dan satu kelas lagi yang disebut dengan "Kelas IV". Para murid yang sekolah di Seminari Garum disebut "seminaris." Apabila lulus dari Seminari Garum, dan yang bersangkutan tetap ingin melanjutkan pembinaan sebagai calon pastor Katolik, mereka akan melanjutkannya ke Seminari Tinggi. Seminari Garum memiliki sekelumit sejarah pendirian yang menyentuh.

Seminari Santo Vincentius a Paulo, Garum, Blitar. Panorama awal tahun 1959. Sumber foto: Missiefront 1959

     Reportase sejarah pendirian Seminari Garum ditulis pertama kali dalam sebuah artikel ringkas oleh Almarhum Romo Karl Prent CM, salah satu pembina seminari pada waktu itu, dalam bahasa Belanda, berjudul "Het Nieuwe Seminarie te Garum" (Seminari Baru di Garum). Tulisan ini dipublikasikan dalam majalah misi, Missiefront.

    Romo Karl Prent CM menulis pengantar artikelnya demikian: "Tanggal 29 Juni 1959, pesta St. Petrus dan Paulus, di sebuah desa yang tenang, yaitu Garum (terletak di jalan Malang-Blitar), sekitar pukul sepuluh pagi ada keramaian yang tidak biasa. Ratusan umat Katolik dari Blitar, Garum, Wlingi, dan Slorok datang berduyun-duyun ke seminari. Mereka menghadiri misa agung yang dipersembahkan oleh Yang Mulia Mgr. J. Klooster, CM., Vikaris Apostolik Surabaya dan kemudian bersama-sama sarapan di ruang makan seminari. Puluhan mobil mengantar para undangan (di antaranya banyak pejabat sipil dan militer) untuk resepsi. Pesta di Garum. Hari ini ulang tahun ke-11 pendirian seminari [di keuskupan Surabaya], sebuah kompleks gedung baru secara resmi mulai digunakan. Sejumlah program pesta telah disusun: Pada malam hari akan ada pertunjukan wayang kulit untuk rakyat di sekitar dan besok pagi ratusan anak akan datang di lapangan olah raga kami untuk mengadakan permainan-permainan rakyat. Rektor seminari, Pastor J. Verbong CM, ekonom, Pastor Adam van Mensvoort CM, kekurangan mata dan tangan untuk mengatur itu semua. Diam-diam kami telah memikirkan jalan panjang yang telah ditempuh selama 11 tahun silam. Pada waktu itu, tahun 1948, Pastor H. Niessen memberikan pelajaran kepada 8 seminaris di sebuah kamar pastoran yang kotor di kota Surabaya yang panas. Sekarang, 11 tahun kemudian, terdapat 5 frater CM teologan di luar negeri, di Garum terdapat 16 frater (CM) yang menuntut pelajaran filsafat, ada korps pengajar yang lengkap, seminari menengah itu mempunyai 5 kelas dan ada sebuah kompleks gedung baru di tengah-tengah nyiur-nyiur yang dikelilingi sawah-sawah, indah."

    Dari kutipan reportase Romo Karl Prent CM di atas, Seminari Garum ternyata sudah dimulai (di tempat lain: di sebuah "kamar pastoran yang kotor") sebelas tahun yang silam (dari tahun 1959). Berarti, Seminari Garum memiliki awal pendirian tahun 1948. Dan, diketahui bahwa ketika Seminari Garum pertama kali digunakan tahun 1959, di situ terdapat pula pelajaran filsafat untuk 16 frater. Maksudnya, Seminari Garum pada awalnya juga sekaligus merupakan Seminari Tinggi (bagi para calon CM ketika itu), disamping pendidikan seminari menengah. Seminari Garum didirikan oleh para perintis Gereja Keuskupan Surabaya, para Romo CM, sebagai salah satu "puncak" karya misi bagi Keuskupan Surabaya.
 
    Dimana seminari pertama kali dimulai tahun 1948, yang disebut oleh Romo Karl Prent CM itu? Romo Prent dan Romo Wolters adalah dua imam yang merekam dengan baik apa yang terjadi tahun itu. Dikisahkan demikian: "Pada waktu awal [seminari] dapat disebut merupakan sebuah petualangan yang romantis. Hari-hari itu tahun 1948 adalah hari-hari kacau. Di suatu hari yang kacau oleh perang kemerdekaan, dimana wilayah negara dipisahkan oleh garis demarkasi, Pastor Dwidjosoesastro CM bersama dengan delapan anak berjalan kaki menembus garis demarkasi, datang ke Surabaya. Setelah perjalanan yang berliku-liku dan melelahkan, pada tanggal 29 Juni 1948, jam 12 siang, mereka tiba di Surabaya. Delapan itu adalah anak-anak Jawa yang ingin menjadi pastor, diantaranya dua yang tertua, Reksosoebroto dan Sastropranoto [juga Julius Haryanto] ketika itu (1948) sedang menyelesaikan studi mereka di Yogya dan kini [1959) mau menerima tahbisan. Keuskupan Surabaya sudah sejak lama sekali merindukan memiliki pastor sendiri. Sudah ada sebenarnya beberapa imam Jawa yang bekerja di Vikariat [Keuskupan Surabaya], namun sampai saat ini jumlah calon imam tidak cukup banyak untuk mendirikan seminari menengah sendiri."

    Yang dimaksud datang ke Surabaya ialah datang di Jalan Kepanjen No. 9, Surabaya, yang saat ini menjadi Rumah Provinsialat romo-romo CM. Baik Romo Jan Wolters CM maupun Romo Karl Prent CM berpendapat bahwa yang memulai pertama kali "seminari" di keuskupan Surabaya tahun 1948 tersebut adalah pastor Ignatius Dwidjosoesastro CM. Siapakah pastor Dwidjosoesastro ini? Dia adalah pastor Jawa Asli, CM pertama Indonesia, yang telah menjadi imam tahun 1941 di Belanda, dan kembali ke Indonesia tahun 1946 (sesudah Perang Dunia II). Dialah yang disebut sebagai "pro-vikaris apostolik" Surabaya pada waktu itu dari Vikaris Mgr. Michael Verhoeks CM. Ketika itu, wilayah vikariat Surabaya terbagi menjadi dua, karena perang agresi. Sebagian wilayah Mojokerto ke timur dikuasai oleh tentara Sekutu (Belanda), wilayah barat dikuasai oleh tentara rakyat Indonesia. Romo Dwidjosoesastro CM bertugas di wilayah barat.
Pada tanggal 25 Februari 1950, Seminari di Jalan Kepanjen No. 9 Surabaya dipindahkan di gedung sendiri, di Jalan Dinoyo 42. Ketika itu Jalan dinoyo 42 adalah mantan rumah Administrator daerah Darmo. Jika, ketika di Jalan Kepanjen, "rektor" seminari adalah Romo Superior Misi waktu itu, yaitu Romo van Megen CM; maka, di Jalan Dinoyo 42, rektor seminarinya adalah Romo van Driel CM.

   Tetapi, di atas segalanya, sesungguhnya pendirian seminari menengah sebagai wahana pendidikan para calon pastor asli (Indonesia) sudah ada di kerinduan terdalam dari Mgr. Theophile de Backere CM, Prefek Apostolik pertama Surabaya, perintis Keuskupan Surabaya. Menurut Mgr. de Backere CM, Gereja Indonesia harus berakar dalam budaya Indonesia melalui klerus (imam-imam) pribumi. Sudah sejak awal (mungkin sebelum tahun 1927) Romo de Backere CM, sebagai kepala misi di wilayah Keuskupan Surabaya, merindukan formasio bagi para calon imam pribumi. Tanah untuk seminari konon sudah dibeli. Tetapi, ijin dari Provinsi CM di Belanda belum tiba, sebab tenaga pembina untuk itu belum tersedia. Tambahan lagi, krisis ekonomi yang melanda dunia dan Eropa memporak-porandakan rencana pembangunan seminari. Sampai tahun 1938, tahun keberangkatan Mgr. de Backere CM ke Belanda untuk pulang selamanya, telah terdapat delapan calon, diantaranya adalah Romo Dibjakariono Pr, yang kelak akan menjadi Uskup Surabaya.[5]
Kerinduan Mgr. de Backere CM tersebut baru dapat terlaksana tahun 1948 (di Jalan Kepanjen 9, Surabaya), yang kemudian berpindah ke Jalan Dinoyo 42 (tahun 1950), dan akhirnya berlabuh di desa Garum (tahun 1959 hingga saat ini).
 
Perkembangan Selanjutnya

   Dari awal yang hanya delapan siswa, kini Seminari Menengah St. Vincentius a Paulo di Garum memiliki siswa sekitar 100-an atau lebih. Pada tahun 1980, di saat rektornya ketika itu Romo Adam van Mensvoort CM, seminari Garum menutup bagian penerimaan "tingkat bawah" atau setara dengan SMP (calon siswa berasal dari lulusan SD). Pertimbangannya: para calon masih terlampau kecil. Sejak saat itu, di Seminari Garum yang ada hanyalah SMA dan kelas di atasnya yang disebut "Kelas IV".

   Tujuan Seminari adalah menyelenggarakan pembinaan bagi lulusan SMP/SMA/SMK, yang bersedia mengikuti panggilan khusus untuk terlibat dalam pelayanan rohani sebagai imam di wilayah Keuskupan Surabaya dan Gereja Katolik pada umumnya. Sebagai Prioritas, lulusan Seminari diarahkan untuk memenuhi kebutuhan imam-imam Praja Keuskupan Surabaya dan imam-imam Congregatio Missionis (CM), namun tidak menutup kemungkinan lulusan Seminari berkarya untuk Tarekat atau Keuskupan yang lainnya.
Mereka yang tidak melanjutkan studi di jalur imamat pada umumnya tampil sebagai para pemimpin di dalam masyarakat. Tidak sedikit para alumni Garum yang memiliki peran penting di masyarakat dan negara Indonesia, baik di bidang intelektual pendidikan maupun bisnis dan politik. Kebanyakan dari mereka tampil sebagai pemimpin dalam masyarakat dan menjadi tokoh Gereja Katolik setempat.

   Bagi masyarakat sekitar Blitar dan Garum, Seminari dikenal sebagai tempat bina anak-anak muda yang dinamis, yang kreatif dalam penguasaan bahasa asing, giat dalam bermain sepakbola, pandai bermain drama dan seni. Para seminaris dibina dalam persaudaraan dan persahabatan serta gigih untuk menatap ke depan. Di keuskupan Surabaya, Seminari Garum merupakan semacam "dapur" yang indah dan penting bagi pembinaan masa depan tenaga-tenaga pastoral mereka. Tetapi, seperti semangat dari para perintisnya, Seminari Garum memiliki dimensi misioner, yaitu pembinaan bagi para calon pewarta Injil yang siap diutus kemana saja Tuhan kehendaki dan Gereja butuhkan.

   Sampai hari ini, seminari itu tertata dan terawat dengan baik dalam sistem pembinaannya seiring dengan kemajuan dan perkembangan sistem pendidikan di Indonesia. Para pembinanya tetap merupakan kesaksian indah dari kerjasama dan persahabatan antara para imam diosesan Surabaya dan para imam CM (Kongregasi Misi) sebagai perintis seminari dan keuskupan Surabaya. Mereka bahu membahu bersama beberapa guru dan awam Katolik serta para Suster Puteri Kasih dalam suasana persahabatan untuk membina anak-anak muda, para seminaris, yang mendengarkan panggilan Tuhan. Suasana persaudaraan dan persahabatan di antara para pembina dan seminaris inilah yang menjadi pondasi kokoh keberlangsungan mutu pembinaan para calon imam di Seminari Garum.

   Nama pelindung, Santo Vincentius a Paulo, merupakan teladan sekaligus menjadi visi ke depan pembinaannya: bahwa para siswanya diantar kepada sikap dan tekad untuk mengabdi Tuhan dan mewartakan Kabar Gembira kepada orang-orang miskin dan terlantar di mana saja, di keuskupan Surabaya, di aneka wilayah Indonesia, juga di wilayah-wilayah seluruh dunia.

   Para Romo yang pernah menjadi rektor Seminari Garum: Romo van Megen CM (ketika masih di Jalan Kepanjen 9 Surabaya), Romo van Driel CM (ketika di Jalan Dinoyo 42 Surabaya), Romo Verbong CM, Romo Karl Prent CM, Romo J. Haryanto CM, Romo Adam van Mensvoort CM, Romo Sjef van Mensvoort CM (pengganti sementara), Romo Hardjodirono CM (pejabat sementara), Romo Louis Pandu CM, Romo Haryo Pranoto Pr, Romo Agustinus Marsup CM, Romo Edi Laksito Pr, Romo Senti Fernandez Pr, Romo Cahyono Pr.

Final Fantasy VII: Advent Children Complete


Resensi
Dua tahun setelah kejadian Final Fantasy VII, penyakit yang disebut Geostigma menyebar di seluruh planet. Penyakit ini dipercaya disebabkan oleh material asing yang menyerang tubuh, akibat kejadian di Final Fantasy VII dua tahun lalu. Merasa bersalah dan dihantui masa lalunya, ex-SOLDIER Cloud Strife memilih hidup sendiri, jauh dari teman-temannya sambil bekerja di "Strife Delivery Service", yang bermarkas di lokasi bar Tifa Lockheart, Seven Heaven. Seven Heaven juga merawat anak-anak yang terkena Geostigma. Disini, Tifa tinggal bersama Marlene anak angkat Barret dan juga Denzel (salah satu anak yang terkena Geostigma), sedangkan Barret mencari energi alternatif untuk menggantikan energi Mako. Suatu hari, Cloud mendapat panggilan telepon dari Shira Company, presiden Shinra Company ingin agar Cloud melindunginya dari tiga pria misterius, salah satu diantaranya bernama Kadaj, mereka sedang mencari "Ibu", dan mereka percaya kalau Cloud mengetahui dimana mereka dapat menemukanya. Siapa sebenarnya ketiga orang tersebut? Apa yang dimaksud dengan "Ibu"? Apa ada hubunganya dengan kebangkitan Sephiroth?

Film ini sebenarnya adalah versi lengkap (complete) dari FFVII: Advent Children, karena ada beberapa tambahan adegan yang tidak ada di FFVII:AC dan juga kualitas grafisnya yang ditingkatkan. Jadi jangan lewatkan film ini.

By I-Prat Ngalam
Download Film ini:
http://www35.indowebster.com/84faae0d9d408d6fc8156cff52802270.mp4

Sumber yang tersisa

Oleh: Stefanus Septian Prasetyo

Kini kau amat Berharga dimataku
Setetespun orang akan mencarimu
Semenjak kejadian itu

Penampung limbah meledak
Sesaat kemudian, setelah aku datang
Mengisi emberku dengan air
di sumber yang tenang

Air disumber kini tlah tercemar
Dan tak kunjung jernih

Betapa terpukul hati orang
Sumber itu adalah kehidupan
Satu-satunya tempat
Bagi setiap insan menyambung hidup

Tak ada yang peduli
Aku tidak, engkaupun tidak
Kami sibuk, kami sibuk mencari
Mencari setetes air, air kebahagiaan

Selasa, 22 Maret 2011

Jurnal Live-In penelitian di dusun Pantimulyo, Talun - SMAK Seminari (XI IPS)

  •  Selasa 8 Maret 2011
        Hari pertama penelitian rombongan kelas XI’S berangkat pukul 07.30 WIB dan sampai di desa Kendalrejo pukul 08.00 WIB. Setibanya di kantor desa kami disambut oleh Bapak kepala desa yakni Bapak Suwardi beserta perangkat yang sedang bertugas saat itu. Sekedar perkenalan kami berbincang-bincang sambil menunggu Bapak kepala dusun Pantimulyo. Setengah jam kemudian Bapak kepala dusun tiba di kantor desa dan langsung berkenalan dengan kami. Setelah saling berkenalan kami langsung diberangkatkan menuju rumah yang menjadi tempat kami menginap selama mengadakan live-in dan penelitian di dusun Pantimulyo.

    Sebelumnya kelas XI’S dibagi menjadi 4 kelompok yakni: Geografi, Sejarah, Ekonomi, dan Sosiologi. Saya masuk dalam kelompok Geografi dan bersama kelompok Sejarah kami tinggal di rumah Bapak kepala dusun Pantimulyo yakni Bapak Supriono. Saya dan teman-teman tiba di rumah beliau pukul 09.15 dan kami disambut dengan ramah oleh Istri beliau. sementara Bapak Supriono masih mengantar teman-teman dari kelompok lain menuju tempat mereka akan tinggal, sekadar perkenalan saya, Gyo, Bertus, Aldo, dan Nico berbincang-bincang bersama Ibu Pri. Pukul 09.30 WIB, Bapak Pri tiba di rumah dan kami bercengkrama sejenak dan dilanjutkan dengan tanya-jawab tentang keadaan dusun Pantimulyo.

         Setelah berbincang-bincang dengan Bapak Kepala Dusun, kami dari Kelompok Geografi yang terdiri dari Gyo, Nico, dan saya langsung berangkat ke lapangan. Agenda kami pagi itu adalah meneliti keadaan sawah, keadaan tanah, pengelolaan sampah, sistem irigasi, dan potensi sumber daya alam yang terdapat di dusun Pantimulyo. Kami berangkat pukul 10.45 WIB dan langsung menuju target penelitian yang berada di bagian barat dusun dan kembali ke rumah pukul 12.30 WIB.

    Setelah beristirahat sore hari kami berangkat lagi untuk survei keberadaan pabrik atau industry yang berada di dusun Pantimulyo, dan kami menemukan 2 pabrik pengolahan yakni pabrik pengolahan Batu Putih (PT. Srimulyo Agung) dan Pabrik pengolahan Kayu Sengon (UD Blitar Jaya) serta 1 gudang penyimpanan pupuk cair hasil limbah milik PT.Ajinex. Jarak yang kami tempuh kurang lebih 2,5 km untuk berangkat dan 2,5 km untuk pulang, awalnya memang terasa tidak enak namun akhirnya saya dapat menikmati perjalanan tersebut. Dusun Pantimulyo adalah dusun yang hijau, dimana-mana ada banyak pohon yang tumbuh sehingga udara masih terasa sejuk disore hari.

    Malam hari sembari menunggu Aldo dan Bertus dari kelompok Sejarah selesai wawancara, saya, Gyo dan Nico berdiskusi tentang hasil yang kami dapat hari ini. Ternyata masih banyak hal yang harus kami lakukan dan kami menyusun jadwal untuk kegiatan kami selanjutnya agar tidak ada hal yang terlewatkan. Setelah makan malam kami keluar lagi menuju warung internet yang berada di dekat rumah, untuk mencari data landasan teori yang belum kami pahami.
  • Rabu 9 Maret 2011
        Rabu pagi pukul 07.00 WIB, saya dan Pak Pri berbincang-bincang mengenai batas-batas dan keberadaan pabrik-pabrik yang ada di dusun Pantimulyo. Setelah sarapan pukul 08.30 WIB kami berangkat menuju Pabrik Pengolahan Baru Putih sesuai petunjuk yang kami dapat dari Pak Pri tadi pagi. Di tempat ini kami melihat bagaimana batu putih yang keras dan besar diolah menjadi makanan ayam dan bahan bangunan yang lebih halus dan berukuran kecil. Saat tiba ditempat kami disambut oleh Sekretaris sekaligus Administrator PT.Srimuylo Agung, Mbak Yana. Kami disambut dengan ramah, beliau menjawab semua pertanyaan kami dengan baik.

         Setelah selesai meneliti Pabrik pengolah Batu Putih kami melanjutkan perjalanan menuju Pabrik pengolahan Kayu Sengon (UD Blitar Jaya), namun sangat disayangkan ternyata orang yang dapat kami wawancarai belum datang di tempat dan kami pun melanjutkan perjalanan menuju kantor desa Kendalrejo. Di kantor desa kami bertemu dengan Bapak Kaur Pemerintahan yakni Bapak Maryono. Kami membicarakan masalah pertumbuhan penduduk desa Kendalrejo karena untuk dusun Pantimulyo sendiri belum ada data sehingga data yang dapat kami kumpulkan hanya data pertumbuhan desa Kendalrejo secara umum dan data itu masih belum lengkap.

          Pukul 13.00 WIB kami kembali menuju Pabrik pengolahan Kayu Sengon (UD Blitar Jaya) sambil berharap orang yang dapat kami wawancarai telah datang. Sampai disana kami disambut oleh para pekerja dan langsung diantarkan menuju Pak Mutikno dari bagian Pengadaan Log (kayu). Pak Mutikto menjawab hal-hal yang kami tanyakan dengan semangat dan dari jawabannya kami mengetahui bahwa semua limbah yang dihasilkan pengolahan kayu ini dimanfaatkan kembali menjadi barang-barang yang lebih bermanfaat. Setelah selesai tanya-jawab kami dipersilakan untuk berkeliling areal pabrik pengolahan kayu tersebut, setelah puas berkeliling kami mohon diri dan pamit untuk melanjutkan perjalanan.

          Dari pabrik pengolahan kayu kami berjalan kaki kembali menuju gudang “pupuk Amina” (PT.Ajinex), awalnya kami mengira bahwa tempat itu adalah pabrik tapi ternyata hanyalah sebuah gudang penyimpanan. Ditempat ini kami disambut oleh Bapak Muklas selaku koordinator gudang. Dari pernyataan Pak Muklas, kami mengetahui bahwa sebenarnya pupuk cair yang dihasilkan oleh perusahaan ini meruPakan hasil olahan dari limbah MSG milik PT.Ajinomoto (perusahaan penyedap masakan) yang kemudian diolah oleh anak cabang perusahaan yaitu PT.Ajinex menjadi pupuk cair.

       Kami mengambil jalan terobosan dalam perjalanan pulang, tidak hanya agar lebih cepat melainkan juga sekaligus melakukan survei lapangan menjaga kemungkinan ada pabrik yang belum di datangi. Kami semua tiba di rumah pukul 14.30 WIB dan langsung bersiap-siap berangkat menuju Gereja stasi Garum untuk mengikuti Misa Rabu Abu.

     Malam sepulang dari stasi kami semua turun di rumah Bapak Agus Kedang dan saya langsung berangkat menuju rumah Mbah Kasidi untuk menemani Aldo dan Bertus mengadakan wawancara, sementara Gyo dan Nico berangkat pulang karena baju mereka sudah basah terkena hujan. Di rumah Mbah Kasidi kami diperlakukan dengan sangat baik, beliau menganggap kami seperti cucunya sendiri sehingga kami merasa betah berlama-lama di rumah beliau. Waktu terus berjalan dan mau tak mau kami harus kembali ke rumah Bapak Supriono karena takut terlalu malam. Setiba di rumah Pak Supriono saya segera mengganti pakaian yang saya kenakan dan selesai ganti baju saya langsung bergabung dengan Gyo dan Nico untuk berdiskusi membahas apa yang kami dapat hari ini.

       Hari ini kami mendapat banyak pengalaman dan banyak data, besok hanya kami hanya tinggal mencari data tentang peternakan dan data imigrasi penduduk. Lalu kami beristirahat, namun tak lama kemudian teman kami dari kelompok Ekonomi yang terdiri dari Yosafat, Stanley, dan Septian datang untuk menemui Bapak Supriono dan kami bangun kembali untuk mencari Pak Supriono. Sementara mereka (teman-teman kelompok Ekonomi) mewawancarai Bapak Pri kami dari kelompok menyimaknya, setelah teman-teman kelompok Ekonomi berpamitan saya dan Aldo secara bergantian bertanya kepada Pak Supriono mengenai hal-hal yang masih belum jelas atau kami belum pahami, seperti mengenai Reboisasi yang dilakukan masyarakat dan untuk Aldo ia bertanya mengenai peninggalan Sejarah yang berada di dusun Pantimulyo. Selesai bertanya-jawab saya dan Aldo mohon diri untuk beristirahat agar esok hari kami dapat bangun lebih cepat untuk mempersiapkan diri untuk pulang.
  • Kamis 10 Maret 2011
     Pagi ini sebelum pulang saya menyempatkan waktu kembali untuk berbincang-bincang dengan Bapak Supriono walau hanya sebentar. Rencananya hari ini adalah kami akan pulang, namun sebelum pulang kami akan mencari beberapa data yang belum lengkap. Sebelum pulang berpamitan terlebih dahulu kepada Bapak dan ibu Pri. Gyo, Nico, dan Bertus langsung berangkat menuju kantor desa untuk mencari data kependudukan yang belum lengkap, sementara saya dan Aldo akan berkeliling terlebih dahulu untuk mengunjungi situs “Batu Mbah Gimbal” dan “Batu Mbah Mrantani” serta mencari data tentang peternakan ayam. Kami terpaksa berpencar untuk menghemat waktu yang ada, selain itu jarak antar lokasi berjarak cukup jauh sehingga kami harus berbagi tugas agar dapat mengumpulkan data dengan lebih maksimal. Dari situs “Batu Mbah Mrantani” yang ada diseblah timur dusun Pantimulyo, saya dan Aldo berjalan menuju lokasi situs “Batu Mbah Gimbal ’’ dan lokasi peternakan ayam yang berada disebelah barat.

               Di Situs “ Batu Mbah Gimbal” saya dan Aldo hanya mengambil foto, setelah itu kami langsung menuju peternakan ayam yang berjarak kurang-lebih 500 M dari situs tersebut. Di tempat itu kami mendapati ada dua peternakan, salah satu peternakan hanya peternakan ayam petelur saja, sedangkan peternakan yang yang lain adalah perternakan ayam pedaging dan petelur. Setelah kami mendapat data yang kami butuhkan dari kedua peternakan ayam tersebut, saya dan Aldo langsung berangkat menuju kantor desa Kendalrejo. Sampai disana semua teman-teman telah berkumpul.
 
     Tak lama kemudian Bu Rina dan Pak Aris datang menjemput kami, kurang lebih pukul12.30 WIB mereka datang. Kami mengadakan acara penutupan Live-in di Kantor Desa bersama dengan perangkat Desa yang lain termasuk Kepala Dusun Pantimulyo yakni Bapak Supriono. Setelah Bapak kepala desa Kendalrejo, Bapak kepala dusun Pantimulyo, dan perwakilan guru SMAK Seminari, serta perwakilan siswa memberikan sambutan, kami semua makan siang bersama. Acara ditutup dengan foto bersama didepan kantor desa, dan setelah itu rombongan langsung berangkat pulang menuju Seminari.
            Garum, 10 Maret 2011       

Stefanus Shandy Herwanto Putra Pratama